KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 3.1
NAMA: LU’LU IL MAKNUN,S.Pd.SD
CGP ANGKATAN 7 KELAS B KABUPATEN BREBES
A. Bagaimana pandangan Ki Hajar Dewantara dengan filosofi
Pratap Triloka memiliki pengaruh terhadap bagaimana sebuah pengambilan
keputusan sebagai seorang pemimpin pembelajaran diambil?
Bapak pendidikan Indonesia yang seyogyagyanya menjadi idola
kita Bersama selaku para pendidik. Ruh pendidikan di Indonesia tidak dapat
dipisahkan dengan Bapak Ki Hajar Dewantara (KHD), yang memiliki nama asli
Soewardi Soerjaningrat sejak tahun 1992.
Ki Hajar Dewantara menyampaikan bahwa tujuan pendidikan
merupakan proses menuntun segala kodrat yang ada pada murid, agar mereka dapat
mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai
manusia maupun sebagai anggota masyarakat.
Pandangan KHD yang dikenal dengan filosofi Pratap Triloka,
yang merupakan asas-asas pendidikan. Hal ini berperan penting bagi seorang
guru, terutama menjalankan perannya pengambilan keputusan sebagai pemimpin
pembelajaran.
Pratap Triloka dikenal dengan semboyan Ing ngarso sung
tuludo, ing madya mangun karso, Tut wuri handayani. Semboyan ini memiliki arti
bahwa "di depan memberi teladan", "di tengah membangun
motivasi", dan "di belakang memberikan dukungan".
Seorang guru sebagai pemimpin pembelajaran, berpedoman
dengan filosofi Pratap Triloka. Keputusan yang diambil memperhatikan
keselamatan murid, yang mana guru sebagai teladan, motivator, serta memberikan
dukungan kepada muridnya. Sehingga, mampu mendampingi tumbuh kembang anak
sesuai kodrat alam dan kodrat zamannya.
Takdir menjadi guru tidak bisa terelakkan sebagai teladan
bagi murid-muridnya. Karakter baik yang dipancarkan dari jiwa ikhlas seorang
guru akan terus diingat murid, begitupun sebaliknya. Bahkan mampu menggerakan motivasi
dalam diri murid ketika mampu disentuh hatinya. Melayani murid dengan sepenuh
jiwa yang berlandaskan kasih sayang akan memberikan kesempatan tumbuh kembang
murid secara optimal dan penuh percaya diri.
Keputusan yang diambil oleh seorang guru tentu akan
mempertimbangkan nilai-nilai kebaikan yang ada dalam dirinya.
Pengambilan keputusan yang dapat membangun motivasi murid untuk terus maju
dalam mewujudkan impiannya. Serta memberikan dukungan penuh terhadap usaha
murid untuk terus menjadi lebih baik sebagai makhluk yang bermanfaat bagi orang
lain.
Untuk itu kecakapan yang harus dimiliki seorang guru agar
dapat menciptakan lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman adalah
keterampilan mengelola emosi dan coaching. Komunikasi akan mudah, lembut, dan
lancar, enak didengar murid, tentu menggunakan bahasa kasih sayang.
Sentuhan bahasa kasih yang setiap murid akan berbeda. Sering
pula ditemukan anak yang bermasalah di kelas, kemampuan menjadi seorang coach
akan sangat dibutuhkan dalam hal ini. Di sini dapat berperan sebagai motivator
dan memberi dukungan penuh atas keputusan yang diambil murid.
Salah satu model coaching adalah model TIRTa (Tujuan,
Identifikasi, Rencana aksi, dan Tanggung jawab). Model coaching ini, dapat
digunakan seorang guru dalam menuntun murid menemukan potensi yang dimilikinya.
Hal ini dapat memanfaat cara komunikasi positif melalui pertanyaan yang
reflektif, dimana akan menstimulasi murid melakukan metakognisi.
Selain itu, pertanyaan-pertanyaan dalam proses coaching juga
akan membantu murid berpikir secara kritis dan mendalam. Sehingga, murid dapat
mengembangkan potensinya secara optimal.
Murid akan mampu mengambil keputusan yang bertanggung jawab.
Melalui coaching keputusan yang telah diambil dapat dikaji lagi dengan
merefleksi kembali apa yang sudah diputuskan. Sebuahputusan yang dapat
dipertanggungjawabkan karena setiap keputusan yang diambil sebagai pemimpin
pembelajaran akan mempengaruhi keberhasilan masa depan murid.
Keputusan yang tetap berlandaskan asas filosofi KHD, mengacu
pada nilai-nilai kebajikan universal. Guru yang ditiru dan digugu berupaya
memantaskan dirinya agar memberikan tauladan baik, sehingga pancaran nilai
kebajikan dalam dirinya akan berimbas pada anak muridnya yang sedang menjalani
proses menuju keselamatan dan kebahagiaan.
B. Bagaimana nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita,
berpengaruh kepada prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu
keputusan?
Kita dilahirkan dan dibesarkan sesuai polesan orang tua dan
lingkungan. Secara alamia setiap individu memiliki nilai-nilai yang telah
tertanam sejak lahir. Manusia secara fitra memiliki nilai-nilai kebajikan,
dalam hati yang paling dalam.
Nilai-nilai kebajikan seperti jujur, tanggung jawab, kasih
sayang, pengertian, bersyukur, budi baik, berprinsip, integritas, adil, sabar,
peduli, percaya diri, dan sebagainya. Semakin tumbuh seiring dipupuk dan
dipelihara dalam kehidupan sehari-hari.
Nilai-nilai positif ini akan tertancap kuat disanubari, yang
akan mewarnai kehidupan sehari-hari di dunia kerja. Peran sebagai guru yang
ditiru dan digugu, mengharuskan nilai-nilai ini ada dalam keseharian kita.
Nilai-nilai keabjikan yang dimiliki secara alamiah akan dijadikan bahan rujukan
atau inspirasi bagi murid maupun warga sekolah.
Guru dalam menjalankan perannya ini, akan berhadapan dengan
masalah yang menuntut pengambilan keputusan. Pengambilan keputusan yang
beretika dan bijaksana. Terkadang tidak bisa dihindarkan apakah nanti akan
ditemukan pada dilema etika (benar lawan benar) atau bujukan moral (benar lawan
salah).
Hal ini membutuhkan pengambilan keputusan yang tepat. Poin
penting untuk dijadikan pedoman dalam pengambilan keputusan berkiblatlah dengan
mempertimbangkan nilai-nilai kebajikan universal, kepentingan berpihak pada
murid, meningkatkan kualitas pembelajaran, serta dapat dipertanggung
jawabkan.
Prinsip yang dapat dipegang dalam mengambil keputusan
menghadapi dilema etika ada tiga, yaitu berpikir berbasis hasil akhir, berpikir
berbasis peraturan, dan berpikir berbasis rasa peduli.
Sejalan dengan nilai dalam diri guru penggerak yang saya
buat dengan akronim MarkiBe, yakni Mandiri, Reflektif, Kolaboratif, inovatif,
berpihak pada murid. Ketika mengambil suatu keputusan kita diharuskan mampu
berpikir kritis, reflektif, dan berpihak pada murid. Hal ini akan menunjang
keberhasilan dan ketepatan dalam pengambilan keputusan.
C. Bagaimana kegiatan terbimbing yang kita lakukan pada
materi pengambilan keputusan berkaitan dengan kegiatan 'coaching' (bimbingan)
yang diberikan pendamping atau fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran
kita, terutama dalam pengujian pengambilan keputusan yang telah kita ambil.
Apakah pengambilan keputusan tersebut telah efektif, masihkah ada
pertanyaan-pertanyaan dalam diri kita atas pengambilan keputusan tersebut.
Hal-hal ini tentunya bisa dibantu oleh sesi 'coaching' yang telah dibahas pada
modul 2 sebelumnya.
Materi Coaching pada pendidikan guru penggerak ini sangat
berguna dalam menjalankan peran sebagai guru. Iya salah satu peran guru
penggerak adalah menjadi coacah bagi guru lain, serta menjalar pula pada murid.
Ilmu ini merupakan skill yang diperlukan untuk menyelesaikan suatu problem yang
ditemui, baik diri sendiri maupun orang lain.
Apabila dikaitkan dengan pembelajaran yang merdeka, hal ini
tentu menjadi penuntun murid dalam menggapai keberhasilan pembelajaran di
kelas.
Pentingkah ini di sekolah? Tentu sangat penting. Prinsip
coaching menuntun guru maupun murid menemukan solusinya sendiri. Hal ini akan
mendorong mereka dapat menemukan potensi yang terpendam. Pertanyaan-pertanyaan
yang berbasis coaching akan menuntun coachee mengambil keputusan sendiri dan
dapat dipertanggung jawabkan.
Guru yang selalu bergelut dengan murid, rekan kerja, serta
lingkungan kerja tentu akan lebih mantap dengan berbekal sebagai seorang coach.
Guru akan mampu menjalankan perannya sebagai coach untuk menuntun lakunya murid
menuju kebahagian dan keselamatan. Hal ini tentu akan mendukung berjalannya
kondisi lingkungan pendidikan yang berpihak pada murid, murid, dan murid.
D. Bagaimana kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari
aspek sosial emosionalnya akan berpengaruh terhadap pengambilan keputusan?
Guru yang memiliki ilmu yang banyak, belum tentu diterima
murid di kelas. Seorang guru yang berperan sebagai pemimpin pembelajaran, jika
ingin menakhlukkan murid menjadi keharusan memahami psikologinya. Guru
seharusnya menyempatkan untuk memahami kondisi sosial dan emosional murid,
tentu setelah guru tersebut memahami dirinya terlebih dahulu. Guru mampu
mengelola emosinya dalam bersentuhan dengan dunia mendidik dan mengajar
di sekolah.
Persiapkan terlebih dahulu diri kita saat di kelas menjadi
pribadi yang memikat, baru bisa menyelami dunia mereka, serta dapat satu
frekuensi dengan mereka. Kehadiran guru di dalam kelas dapat diterima dengan
baik, materi pelajaran akan mudah diserap dan termotivasi untuk menakhlukkan
tantangannya. Serta, yang terpenting terjalin komunikasi yang terbuka, sehingga
mampu mengabil keputusan yang disepakati bersama-sama dengan gembira dan tanpa
tekanan.
Seorang murid tentu akan mampu mengambil keputusan yang
dapat dipertanggung jawabkan dalam menghadapi masalahnya, dengan didampingi
oleh guru atau mandiri. Iya, guru berperan penting melatih dan menyediakan
kesempatan pada mereka berlatih mengambil keputusan yang tepat dan
bijaksana.
Oleh karena itu guru sangat penting memahami aspek sosial
dan emosionalnya agar mampu mengambil keputusan yang tepat dan bijaksana dalam
menyelesaikan kasus yang termasuk dilema etika di lingkungan sekolah atau
kelas. Jadi kemampuan seorang guru dalam mengelola dan menyadari aspek sosial
emosionalnya akan berpengaruh terhadap pengambilan keputusan.
E. Bagaimana pembahasan studi kasus yang fokus pada
masalah moral atau etika kembali kepada nilai-nilai yang dianut seorang
pendidik.
Kehidupan ini tidak akan terlepas dari masalah, entah itu
dilema etika maupun bujukan moral. Kehidupan di lingkungan sekolah lebih lagi,
karena berhadapan dengan orang banyak dan dari latar belakang yang beragam.
Seorang guru sangat memerlukan keterampilan dalam menjalin hubungan sosial dan
mengambil sebuah keputusan.
Suatu hal yang lumrah, jika masih mengalami kesalahan jika
belum mendapatkan ilmunya. Melalui pendidikan guru penggerak ini saya bersyukur
bisa mendapatkan ilmu tentang bagaiamana mengambil keputusan yang tepat.
Oleh karena itu, ketika saya harus menghadapi masalah dan
diminta mengambil suatu keputusan, insya Allah akan menggunakan rumus 4,3 dan
9.
Saya akan mengkajinya dengan menelisik nilai-nilai kebajikan
mana yang bertentangan, kemudian menelususri siapa yang terlibat, serta akan
melakukan pengujian benar lawan sala, benar lawan benar, melakukan prinsip
resolusi dengan menggunsksn 3 prinsip pengambilan keputusan, akan
menginvestigasi apakah unsur opsi trilema, baru mengambil keputusan, dan yang
terakhir mengujinya dengan melihat lagi dan merefleksi keputusan yang
diambil.
Kita harus memegang teguh tujuan memuliakan murid, berpihak
pada murid, meningkatkan kualitas pembelajaran, serta dapat dipertanggung
jawabkan. Tentu hal ini akan sangat dipengaruhi oleh latar belakang nilai-nilai
yang dianut oleh seorang guru tersebut. Jika baik budinya maka keputusan yang
diambil akan berpihak pada murid dan dapat dipertanggung jawabkan, pun
sebaliknya.
F. Bagaimana pengambilan keputusan yang tepat, tentunya
berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman.
Guru sebagai pemimpin pembelajaran akan bersentuhan dengan
pengambilan keputusan, suka atau tidak suka. Sebuah pengambilan keputusan
diharapkan mampu membuat kondisi aman, nyaman, dan kondusif. Pengambilan
keputusan yang tepat tentu harus dilatih dengan pedoman yang sesuai instrumen
pengambilan keputusan yang berdampak pada murid di sekolah.
Langkah pertama, guru harus mampu membedakan apakah kasus
yang dihadapi merupakan dilema etika atau bujukan moral. Setelah jelas dilema
etika, lakukan pengujian selanjutnya, agar sampai pada pengambilan dan
pengujian keputusan yang telah diambil. Ingat, insturmen yang harus dipegang
dalam mengambil keputusan adalah sembilan langkah dalam pengambilan dan
pengujian keputusan, dimana didalamnya terkandung nilai-nilai universal, empat
paradigma pengambilan keputusan, serta tiga prinsip pengambilan
keputusan.
Sehingga pada akhirnya peran guru sebgai pemimpin
pembelajaran akan mampu menciptakan lingkungan positif, kondusif, aman, dan
nyaman untuk murid serta lingkungan sekolah pada umumnya.
G. Selanjutnya, apakah kesulitan-kesulitan di lingkungan
Anda yang sulit dilaksanakan untuk menjalankan pengambilan keputusan terhadap
kasus-kasus dilema etika ini? Apakah ini kembali ke masalah perubahan paradigma
di lingkungan Anda?
Hidup tak akan pernah tanpa masalah. Seorang guru pasti akan
terus menemui masalah dalam peran yang dilakoninya. Guru satu dengan yang
lainnya akan berbeda dalam memandang masalah yang dihadapi, tergantung
kecerdasan mengatasi masalah yang dimilikinya. Hal ini akan bertemu pula
dengan tahap pengambilan keputusan. Pengambilan keputusan yang dapat
dipertanggung jawabkan, serta berpihak pada murid.
Tentu keterampilan menganalisis setiap kasus yang dialami
akan berpengaruh dengan pengambilan keputusan terhadap kasus yang dihadapi.
Guru sebagai pemimpin pembelajaran tidak boleh terjebak, akibat dari kurang
mampu menelaah situasi kasus yang dihadapi.
Iya, harus mampu membedakan apakah bernilai benar dan benar
atau bernilai benar dan salah (sebuah dilema etika atau bujukan moral semata).
Pengambilan keputusan harus dilakukan jika kasus merupakan dilema etika, tentu
dengan berpegang teguh pada instrumen yang benar.
Pengambilan keputusan terkadang sulit dilakukan karena
terbentur dengan perubahan paradigma atau budaya yang berlaku di lingkungan
sekolah. Kebiasaan yang menjadi budaya akan tidak mudah diilakukan pengambilan
keputusan yang berhubungan dengan ini.
Harus dengan kehati-hatian, karena akan menyakiti banyak
pihak/ pihak yang terlibat. Tentu disadari atau tidak sebuah keputuasn tidak
dapat mengakomodir kepentingan semuanya, bahkan mungkin akan menyakiti pihak
tertentu.
Pengetahuan dan keterampilan dalam pengambilan keputusan
yang berpihak pada murid tentu belum matang sempurna. Minimnya kemampuan ini
akan mempengaruhi keputusan yang akan kami ambil. Namun, kekhawatiran sya
tentang hal ini akan kami benahi denagn selalu belajar dan berpegan pada
insturmen yang tepat dan jelas.
Intinya pada titik tekan berpihak pada murid,
menignkatkan kualitas pembelajaran murid, serta dapat dipertanggung jawabkan.
Ini sebuah pegangan dalam pengambilan keputusan yang akan diambil dalam
menajlankan peran guru sebagai pemimpin pembelajaran.
H. Dan pada akhirnya, apakah pengaruh pengambilan
keputusan yang kita ambil ini dengan pengajaran yang memerdekakan murid-murid
kita?
Perubahan paradigma tentang pendidikan yang memuliakan murid
tentu mempengaruhi pola pengajaran di kelas. Guru selama ini menuntut terlalu
banyak karena tuntutan dari kurikulum yang luas, akan berubah menjadi menuntun
murid dalam mengambil perannya di kelas.
Merdeka belajar intinya belajar yang berpihak pada murid,
yang memperhatikan kebutuhan belajar murid. Oleh karena itu, keputusan yang
diambil sesuai dengan filosofi tersebut mengisyaratkan menemani murid sesuai
kemampuan atau kodrat alam maupun zamannya.
Kehadiran guru di dalam kelas, mengajak murid menyadari
potensinya, menambah kepercayaan dirinya, menjadi temannya, serta
menggali potensi terbaiknya. Murid berani mengemukakan pendapatnya,
mendesain tugas projek sesuai bakatnya, mengambil peran aktif di kelas, serta
mampu mengambil keputusan yang dapat dipertanggung jawabkan. Sehingga, tujuan
yang ingin dicapai yaitu keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya
akan dapat terwujud.
I. Bagaimana seorang pemimpin pembelajaran dalam
mengambil keputusan dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan
murid-muridnya?
Pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran harus
berpihak pada murid. Bagaimana seoarng guru harus memperhatikan apa yang
dibutuhkan murid. Suatu keputusan yang kita ambil sudah mempertimbangkan
kebutuhan murid maka dapat dipastikan murid mampu menggali potensi yang ada
dalam dirinya.
Guru sebagai pemimpin pembelajaran dapat memberikan
pembelajaran yang sesuai denga kebutuhan belajarnya dan menuntun murid dalam
mengembangkan potensi yang dimiliki.
Apabila keputusan yang diambil berpihak pada murid,
memperhatikan kebutuhan murid, akan dapat menambah rasa percaya diri murid,
ketenangan batin murid dalam menuntut ilmu, dan pada akhirnya akan berhasil
menghadapi setiap tantangan di masa depannya, tidak mudah menyerah, bijaksana,
serta menemukan kesuksesan yang dapat bermanfaat bagi orang banyak.
J. Apakah kesimpulan akhir yang dapat Anda tarik dari
pembelajaran modul materi ini dan keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya?
Tentu ada banyak pelajaran yang dapat saya petik dalam
mempelajari modul 3.1 tentang pengambilan keputusan sebagai pemimpin
pembelajaran. Saya belajar tentang cara - cara pengambilan keputusan yang
tepat. Berperan sebagai pemimpin pembelajaran yang berpihak pada murid sudah
menjadi suatu keharusan dalam setiap pengambilan keputusan, bukan berpihak pada
diri sendiri atau golongan terrtentu.
Kita semua menyadari masalah akan terus menghampiri kita.
Oleh karena itu tidak boleh gegabah dalam mengambil suatu keputusan. Jika
memang dihadapkan dengan masalah yang rumit, kita harus menenangkan diri dulu
dengan mindfulness, menarik nafas panjang dan menyadarinya. Agar dapat berpikir
jernih dan mengkaji berbagai sudut yang dapat dipertimbangkan sesuai dengan
nilai-nilai kebajikan universal, berkiblat pada sembilan langkah pengambilan
keputusan.
Memiliki keterampilan coaching dan kecerdasan emosional akan
sangat menunjang keberhasilan mengatasi masalah yang dihadapi. Sehingga,
keputusan yang diambil akan dapat dipertanggung jawabkan dan berpihak pada
murid.
Tentu saja suatu keputusan tidak akan memuaskan semua pihak,
akan tetapi sepanjang keputusan itu berpihak pada murid, peningkatan mutu
pembelajaran, serta dapat dipertanggung jawabkan, maka lakukan dan ambil
keputusan itu.
Tentu jangan melupakan kecermatan analisis kasus jangan
terjebak dengan bujukan moral, dan harus hati-hati dalam menentukan langkah
pengambilan keputusan dari berbagai situasi dan kondisi yang ditemui.
Hal inipun akan dapat dilakukan apabila paradigma kita sudah
sesuai dengan filosofi Ki Hajar Dewantara yang selaku guru dapat menuntun murid
sesuai kodratnya dan menghamba pada murid. Kajian tentang pembelajaran yang
sesuai kebutuhan murid akan mudah dilakukan jika paradigma ini sudah ada dalam
diri guru, serta guru tersebut memiliki visi dan misi yang jelas berpihak pada
murid. Pada akhirnya akan terwujud generasi yang bijaksana dan bahagia, serta
memiliki keselamatan dunia dan akherat. Generasi berprofil pelajar pancasila.
Komentar
Posting Komentar