Di sudut senja yang redup,
aku menyusun kenangan tentangmu,
menyimpan rindu di laci-laci hati,
agar tak berantakan oleh waktu.
Namun kau datang lagi,
seperti badai yang tiba-tiba,
menghempas tenang yang kupeluk erat,
mengoyak sunyi yang coba kurajut.
Kau acak-acak ruang rinduku,
menggugurkan mimpi yang kucoba tanam,
menyisakan jejak langkahmu di lantai hati,
dan bayangmu di dinding kenangan.
Aku ingin merapikan rasa ini,
menghapus jejakmu dari sudut ingatan,
tapi kau selalu kembali,
menyibak sepi yang kucoba rawat.
Mungkin memang begini takdirnya,
aku hanyalah rumah untuk rindu,
dan kau adalah angin liar,
yang selalu ingin kembali menerbangkannya.Di sudut senja yang meremang
aku menata kenangan tentangmu.
Rindu kususun dalam barisan kata,
agar tak terjatuh dan berantakan.
Namun kau datang lagi,
menerjang pintu yang coba kututup.
Seperti badai yang liar,
mengacak tenang yang kupeluk erat.
Langkahmu mengetuk-ngetuk ingatan,
menggetarkan lantai hati yang rapuh.
Bayangmu berlarian di dinding kenangan,
meninggalkan jejak yang tak bisa kuhapus.
Aku duduk memunguti serpihan rindu,
yang berserakan di sudut waktu.
Kucoba merapikan perasaan,
namun tanganku gemetar menata luka.
Engkau melangkah ringan,
seolah tak tahu betapa beratnya aku memikul rindu.
Tatapanmu menyalakan bara di dada,
membakar mimpi yang kucoba matikan.
Kupinta waktu untuk melupakan,
namun hadirmu adalah detik yang membangunkan.
Aku ingin berlari menjauh,
tapi rinduku terus memanggil namamu.
Kau adalah angin yang menyapu daun-daun sepi,
menyerakkan ingatan di halaman hati.
Aku tersesat di antara jejak langkahmu,
tak tahu ke mana harus melangkah pergi.
Kubangun dinding untuk membendung rasa,
namun kau menjelma hujan yang meruntuhkannya.
Setiap tetes hadirmu menelusup,
menyelinap diam ke dalam jiwa.
Aku ingin meredam namamu,
namun gema suaramu terus bergaung.
Kucoba menutup jendela ingatan,
namun bayangmu menari di balik tirai malam.
Hatiku adalah rumah yang kau huni,
meski tak pernah kau sebut sebagai milikmu.
Kau datang dan pergi sesuka hati,
menyisakan kosong yang tak mampu kuisi.
Ruang rinduku kacau balau,
dan aku terlalu lemah untuk membereskannya.
Setiap sudut dipenuhi serpihanmu,
dan aku kehabisan cara untuk melupakan.
Kau tak tahu betapa aku berjuang,
merapikan rasa yang kau tinggalkan berserakan.
Namun tiap kususun, kau kembali,
menghempaskannya lagi tanpa peduli.
Aku mengutuk rindu yang terlalu mencintaimu,
rindu yang membuatku menginginkan luka.
Meski kau terus melukai ruang rinduku,
aku tetap membiarkanmu pulang ke sana.
Seperti malam yang merindukan bulan,
meski tahu bulan akan pergi lagi.
Aku merindukanmu meski tahu,
Komentar
Posting Komentar