Di sudut senja yang redup, aku menyusun kenangan tentangmu, menyimpan rindu di laci-laci hati, agar tak berantakan oleh waktu. Namun kau datang lagi, seperti badai yang tiba-tiba, menghempas tenang yang kupeluk erat, mengoyak sunyi yang coba kurajut. Kau acak-acak ruang rinduku, menggugurkan mimpi yang kucoba tanam, menyisakan jejak langkahmu di lantai hati, dan bayangmu di dinding kenangan. Aku ingin merapikan rasa ini, menghapus jejakmu dari sudut ingatan, tapi kau selalu kembali, menyibak sepi yang kucoba rawat. Mungkin memang begini takdirnya, aku hanyalah rumah untuk rindu, dan kau adalah angin liar, yang selalu ingin kembali menerbangkannya.Di sudut senja yang meremang aku menata kenangan tentangmu. Rindu kususun dalam barisan kata, agar tak terjatuh dan berantakan. Namun kau datang lagi, menerjang pintu yang coba kututup. Seperti badai yang liar, mengacak tenang yang kupeluk erat. Langkahmu mengetuk-ngetuk ingatan, menggetarkan lantai hati yang rapuh. Bayangmu berlarian di dindi...
Komentar
Posting Komentar